CERPEN “Menjaga Amarah”
Posted: Selasa, 05 November 2013 by Unknown in
0
“Menjaga
Amarah”
Sore
itu Anu benar benar jengkel sama Bi Yati, pembantu di rumahnya. Gara gara Bi Yati
tidak hati-hati, burung garuda milik Anu lepas. Karena setelah memberi makan si
garuda, Bi Yati lupa menutup kembali sangkarnya, sehingga lepaslah garuda itu
ke alam bebas.
“Maafkan
Bibi, Mas. Waktu itu Bibi sangat sibuk…”Bi Yati mengakui kesalahanya di depan
Anu yang bermuka merah.
“Bibi bersedia menggantinya, Mas.
Insya Allah besok pagi Bibi akan belanja ke pasar, sekalian mampir ke pasar
burung untuk membeli garuda yang lebih bagus dan lebih merdu suaranya,” hibur
Bi Yati.
“Di pasar memang banyak burung tetapi
mana ada yang sebagus garudaku. Bibi tahukan garuda itu pemberian paman dari Papua,ketika aku berulang tahun
sebulan yang lalu. Dan aku telah berjanji pada paman untuk selalu menjaga
burung itu, sekarang garuda itu telah lenyap. Apa yang harus kukatakan bila
paman mengetahui hal ini??”.
“Lalu apa yang mesti Bibi lakukan?”
Tanya Bibi yang sudah kehabisan akal untuk meredam emosi anak semata wayang
keluarga Pak Budi.
“Bibi payah ! nanti akan saya adukan
keteledoran Bibi yang sudah melampaui batas ini pada Ibu dan Ayah. Dan aku juga
akan meminta untuk segera memberhentikan Bibi yang pelupa dan pikun!!” ancam
Anu sambil melangkah ke kamarnya.
“Jangan lakukan itu, mas! Bibi mohon.
Jika Bibi harus berhenti bekerja, lalu bagaimana Bibi bisa mendapatkan uang
untuk biaya sekolah si Heri” keluarga mas Anu adalah tumpuan harapan Bibi,”
ucap Bi Yati sambil manangis tersedu-sedu.
Pukul setengah enam petang. Ayah dan
Ibu Anu baru pulang dari kantor. Menmasgar suara mobil Ayah, Anu cepat-cepat
keluar dari kamar. Langsung menyambut kedatangan kedua orang tuanya masgan
gembira.
“Assalamu’alaikum” salam Ibu.
“Wa’alaikumussalam,” balas Anu.
“Alhamdulillah, Ayah dan Ibu bisa
pulang. Tadi jalanan macet. O, ya ini oleh oleh pesananmu tadi, Nu,”sambil
memberikan bungkusan pada Anu.
Setelah Maghrib, Ibu mendatangi bi
Yati di kamarnya. Tetapi ketika Ibu sampai di kamar, di sana tidak ada siapa
siapa. Malah Ibu menemukan sepucuk surat dari Bi Yati.
“Masya Allah kenapa bisa begini?” . Di
dalam suratnya, Bibi mengatakan bahwa mulai besok Bi Yati akan berhenti bekerja
karena dia sudah tua dan pikun.
“Anu, Ibu dan Ayah ingin bicara masganmu
sebentar!!”panggil Ibu di depan pintu kamar Anu
“Ada apa sih, Bu?”Tanya Anu.
“Apa hari ini Anu marah-marah sama Bi
Yati?” Tanya Ibu.
“Iya, Bu,”jawab Anu sambil menunduk.
“kenapa?” Tanya Ibu lagi. “Begini ceritanya. Tadi sore bibi mengaku
bahwa sehabis member makan garuda, Bibi lupa menutup kembali sangkarnya sehingga
lepas burungnya, karena Anu jengkel, janunya Bibi Anu marahin,” jawab Anu
“Masgar ya Nu. Bibi itu sudah lima
puluh empat tahun umurnya, sehingga tak aneh kalau Bibi sering lupa. Ayah dan
Ibu bisa masgan mudah membelikan garuda untukmu,kitakan kaya. Tetapi kalau cari
pembantu sebaik Bi Yati tak semudah itu. Bibi sudah bertahu tahun menjanu
pembantu keluarga kita. Bi Yati lah yang
mengasuhmu sejak bayi. Dialah yang membawamu ke dokter jika kamu sakit. Dia
juga yang membuatkan mainan ketika kamu rewel dan tidak bisa tidur di malam
hari,”nasihat Ibu.
“Maafkan Anu, Bu. Tadi Anu terlalu
jengkel sih,”kata Anu.
“Anu harus selalu ingat bahwa sebagai
orang beriman. Kita diwajibkan untuk bisa menahan amarah dan tidak sombong,”
“Anu ngerti, Bu. Anu akan pergi ke
rumah Bi Yati sekarang. Anu akan minta maaf Bibi.”
“Berangkatlah anakku. O, ya, Ibu mau
titip mukena buat Bibi. Tolong berikan padanya, ya?”
“Ya, Bu nanti akan saya sampaikan pada
Bibi.”
Setelah menerima pesan dari Ibu, Anu
pun mengambil sepedanya di garasi. Lalu, masgan niat yang tulus dia bersepeda
menuju rumah Bi Yati untuk minta maaf, dan memmintanya untuk bekerja kembali di
rumahnya.


